Memaknai Kembali Pekerjaan

Bekerja ialah salah satu kegiatan utama setiap orang di sepanjang hidup. Sebagian besar orang menghabiskan setidaknya sepertiga waktu produktif untuknya. Sebagian lainnya bahkan lebih dari itu.

Melalui pekerjaan, setiap individu “menyumbangkan” diri. Dari waktu, tenaga, pikiran dan tentu saja biaya. Dengan pekerjaan kita rela meneteskan darah, keringat dan air mata. Menguji ketulusan, kesabaran, ketekunan, pengorbanan, tanggungjawab, dan integritas. Berkat pekerjaan kita bisa menggapai mimpi dan cita (bahkan cinta).

Menyadari berharganya pekerjaan, setiap insan berjuang setengah mati untuk mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Dimulai dari kelulusan SMP. Saudara-saudara kita yang ingin cepat bekerja tentu memilih SMK, sesuai dengan vokasi yang diinginkan. Sementara itu yang memiliki hasrat untuk meneruskan ke perguruan tinggi, mempercayakan SMA dengan konsentrasi Ilmu Alam, Ilmu Sosial hingga Bahasa.

Bagi yang beruntung bisa melanjutkan kuliah, “drama” pemilihan jurusan tak terelakkan lagi. Seringkali orang tua ikut campur tangan dalam menentukan program studi buah hati. Tidak jarang pilihan yang diambil mengabaikan aspek minat, bakat, potensi dan kepribadian. Banyak yang masih ikut-ikutan tren hingga mengambil jurusan tertentu hanya karena prospek pekerjaan. Tidak ada yang salah memang. Namun dari sini kita bisa mengerti, betapa pekerjaan menjadi isu penting yang tak bisa dipungkiri.

Pekerjaan merupakan salah satu pilar dalam menentukan pasangan hidup. Beberapa orang mengidolakan calon jodoh dari profesi tertentu. Sebagian orang mematok calon pasangan, harus memiliki penghasilan dengan jumlah yang menurut mereka “wajar”. Sebagian lainnya sama sekali tidak mempermasalahkan profesi, asalkan bisa menghidupi.

Pekerjaan ibarat pisau bermata dua. Bergantung dari cara individu menyikapi masalah bertubi-tubi yang mengiringi karirnya. Banyak figur publik mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Sebagian dipenjara karena korupsi hingga mengkonsumsi narkotika. Tidak sedikit yang stres tiada henti karenanya. Sementara itu masih ada yang bahagia karena bekerja. Apapun rintangan yang dilaluinya.

Lantas bagaimana kita memaknai pekerjaan? Jika kita ulik lagi, ada beberapa poin yang bisa disarikan.

Pekerjaan Sebagai Beban

Ini dirasakan oleh orang-orang yang belum mengenal dengan baik siapa dirinya. Mereka menganggap segala tanggungjawab yang dihadapi karena keterpaksaan. Mengeluh, menyalahkan orang lain, dan acuh tak acuh sudah menjadi kebiasaan orang di level ini. Mereka bekerja semata-mata ingin mendapatkan Rupiah. Seringkali mereka ingin menang sendiri, mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya, dan mengabaikan kata hati.

Pekerjaan Sebagai Aktualisasi Diri

Ini dirasakan oleh kebanyakan orang. Mereka bekerja secara profesional. Menyalurkan potensi, minat, bakat dan keterampilannya dalam keseharian. Sebagai gantinya, mereka mendapatkan upah. Sistem reward & punishment cukup efektif dalam “memompa” semangat orang-orang di level ini. Mereka bekerja keras demi jenjang karir yang didambakan. Paada saat yang bersamaan, mereka terus tumbuh karena bertambahnya pengalaman. Didewasakan oleh masalah, ditempa dengan tugas yang dari hari ke hari makin besar.

Pekerjaan Sebagai Cara untuk Melayani Sesama

Mereka bekerja bukan karena keterpaksaan. Mereka berkarya bukan sekonyong-konyong karena uang. Namun mereka “ada” untuk melayani sesama. Semakin besar tanggung jawab yang dieemban, semakin besar pula “peluang” mereka untuk bahagia. Memberikan sebagian tenaga, waktu dan pikiran sudah menjadi denyut nadi. Membantu sesama telah menjadi citra diri. Mereka tidak tinggi hati ketika dipuji, dan tidak rendah diri ketika dicaci.

Pekerjaan Sebagai Jalan untuk Memecahkan Masalah Orang Lain

Pekerjaan sejatinya merupakan ujian yang wajib diselesaikan. Itu artinya, siapa saja yang bisa “lulus”, secara otomatis akan “naik kelas”. Dengan kata lain, cepat atau tidaknya perkembangan karir kita ditentukan oleh seberapa besar masalah yang kita pecahkan. Semakin tinggi posisi, semakin tinggi pula tantangan yang harus diredamkan. Semakin dahsyat kepuasan yang ditawarkan, semakin dahsyat pula resiko yang mengiringi. Menyadari hal itu, orang-orang yang berada pada level ini tidak pernah iri dengan pencapaian orang lain. Mereka percaya dengan hukum alam bahwa apa yang ditanam, itu pula yang akan dituai.

Pekerjaan Sebagai Panggilan

Ini merupakan “derajat” tertinggi dalam menghayati sebuah pekerjaan. Mereka berkarya bukan semata-mata karena kepentingan dunia. Melainkan sebagai sarana untuk mengabdi kepada Sang Hyang Widhi. Orang-orang ini berkarya karena ibadah. Jadi, mereka tidak lagi bekerja “hitung-hitungan”. Melainkan berusaha menciptakan nilai tambah dari masa ke masa. Mereka berhubungan dengan Tuhan sebaik berhubungan dengan manusia. Oleh karena itu mereka yakin, bahwa rezeki tidak akan pernah tertukar. Bagi mereka, bekerja merupakan proses ibadah yang dengan suka cita dilaksanakan dengan “tujuan” mulia.

Nah, di atas merupakan beberapa makna pekerjaan versi saya. Bisa jadi Anda memiliki definisi tersendiri. Namun itu tidak jadi soal. Karena pekerjaan merupakan cermin dari siapa kita. Jadi ingin menjadi sebaik apakah Anda dalam menyelami pekerjaan?

 

Artikel ini sebelumnya dimuat di Intipesan, 31 Juli 2017 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit