Seni Melewati Krisis Seperempat Baya

Baru-baru ini saya bertemu dengan Albert (bukan nama sebenarnya), di salah satu kedai kopi populer di bilangan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Albert merupakan purwarupa Gen Y yang belakangan menjadi bahan diskusi di mana-mana. Dari orangtua, dosen, praktisi sumber daya manusia, hingga pemerintah. Sebuah generasi yang dikenal aktif, kreatif, “banci tampil”, melek teknologi suka berpindah-pindah kerja dan berambisi tinggi.

Di usia yang baru menginjak 24, Albert bisa dikatakan cukup sukses. Bekerja di perusahaan multinasional, pendapatan bulanan di atas rata-rata teman sebayanya, relasi yang luas, dan memiliki bisnis dengan omset yang membuat semua orang bilang “wow”.

Kedatangan Albert di hari itu hanya satu, yakni untuk meminta nasehat dari seorang “kakak kelas” yang terpaut lima tahun usianya yang tidak lain adalah saya.

Setelah melewati jam pertama mendengarkan curhatan, saya mendapati kesimpulan bahwa Albert tengah dalam krisis seperempat baya. Sebuah periode ketika seorang early jobbers mempertanyakan keputusan-keputusan yang telah dialami, sekaligus mencemaskan masa depan. Sebuah fase tatkala fresh graduates takut salah mengambil langkah, ragu-ragu dalam bertindak, membandingkan (pencapaian) diri sendiri, dengan  rekan sebaya dan dirundung kegalauan yang seakan tak berkesudahan.

Cerita Albert yang ditumpahkan kepada saya hanyalah puncak dari gunung es. Dirinya hanyalah salah satu dari jutaan pemuda yang mendapati fresh graduate syndrome. Sebuah krisis yang memang jamak dialami oleh siapa saja di usia antara 24-34 tahun.

Nasehat yang saya berikan kepada Albert sejatinya telah saya rangkum dalam buku “Mantra Kehidupan”, yang telah terbit beberapa bulan silam. Bukan bermaksud menggurui – tapi hanya sekedar berbagi – berikut ialah beberapa tips yang mungkin bisa diterapkan oleh pengidap krisis seperempat baya.

Kenali Diri Sendiri

Ini merupakan langkah pertama yang tak bisa “dilangkahi”. Mengetahui kekuatan, kelemahan, hobi, minat, bakat, dan tipe kepribadian adalah modal yang tak bisa ditawar sebelum meniti karir hingga mengarungi bahtera rumah tangga. Anda memang bisa memanfaatkan biro-biro konsultasi sumber daya manusia untuk memetakan siapa diri Anda. Namun pada akhirnya hanya Anda (dan Tuhanlah) yang benar-benar mengetahui jawaban terbaiknya. Itu mengapa saya setuju dengan ungkapan, barang siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya.

Jangan Membandingkan Kehidupan Anda Dengan Orang Lain

Setiap orang memiliki “orbit” masing-masing. Dari start  waktu kita lahir hingga angan-angan yang dimiliki. Itu mengapa membandingkan pencapaian diri sendiri dengan orang lain hanya akan membuat Anda tidak bahagia. Terinspirasi dengan prestasi memukau dari orang lain memang sah-sah saja, namun jangan sampai itu malah menjadi mental block yang membuat Anda tidak bersyukur. Karena perlu kita ingat bahwa di luar sana selalu ada orang yang lebih kaya, lebih berkuasa, lebih berpengaruh, lebih terkenal, lebih cantik, lebih tampan, atau lebih langsing. Oleh karena itu mensyukuri apa yang kita miliki saat ini tidak bisa ditawar lagi, jika ingin berbahagia.

Terus Mencoba

Jika telah yakin dengan apa yang benar-benar Anda inginkan dalam hidup, saya ucapkan selamat. Namun jika Anda masih diselimuti dengan keraguan, tenang saja. Anda tidaklah sendirian. Karena hidup memang dinamis. Alih-alih menghabiskan hari-hari Anda dengan kegalauan, coba saja hal-hal yang memancing keingintahuan Anda. Bisa dimulai dengan menekuni hobi, aktif terlibat di komunitas, menjadi sukarelawan, mencoba peruntungan sebagai pekerja lepas, hingga membuka bisnis yang sesuai dengan minat Anda. Di masa transisi ini memang tidak ada hal terbaik selain mencoba hal-hal baru. Karena dari situ Anda bisa menyaring apa yang cocok dengan diri sendiri, apa yang tidak perlu Anda tekuni lagi, dan apa yang perlu didalami pada sisa usia produktif Anda. Jika  tidak mencoba banyak hal, bagaimana  Anda yakin dengan pilihan yang telah dibuat ? Karena fokus hanya bisa dilakukan setelah melewati masa “coba-mencoba”.

Miliki Visi, Tapi Nikmatilah Prosesnya

Visi ialah bagaimana Anda melihat diri sendiri di masa yang akan datang. Ia terkait dengan apa yang benar-benar Anda cari, Anda inginkan, Anda raih, atau Anda lakukan. Suatu kondisi yang tentu saja unik, pun subyektif. Menyadari hal itu sudah seyogyanya Anda untuk menikmati prosesnya. Mengapresiasi setahap demi setahap kemajuan yang Anda capai. Karena kebahagiaan sesungguhnya ada di dalam perjalanan, bukan tujuan akhir.

Nah, di atas merupakan beberapa tips yang mungkin bisa Anda pertimbangkan dalam mengarungi krisis seperempat baya. Beberapa mungkin cocok bagi Anda, sebagian bisa jadi tidak relevan untuk sebagian orang. Yang terpenting Anda menyadari bahwa masa depan sepenuhnya ada di dalam kendali Anda. Bukan dari atasan, orang tua, teman, atau yang lain.

 

Artikel ini sebelumnya dimuat di Intipesan, 25 Juli 2017 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit