Hati-hati dengan Mimpi

Sedari kecil, setiap individu didorong untuk berani bermimpi. Oleh karenanya, dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK), para ibu guru selalu mengingatkan adik-adik untuk berimaginasi.

“Anak-anak, kelak kamu nanti ingin menjadi apa?” Begitulah satu pertanyaan sederhana yang mungkin akan terus terngingang. Satu frase yang bisa jadi dianggap sepele tapi berdampak dahsyat pada perjalanan hidup siapapun.

Setiap orang berhak bermimpi. Toh, nggak ada syarat khusus untuk memetakan mimpi. Hanya saja, ada satu hal yang sering dilupakan teman-teman ketika melakukannya.

Ya, setiap orang bisa bermimpi. Tapi, tidak semua orang berhasil mewujudkan mimpinya. Mungkin kurang dari sepuluh persen manusia di dunia ini yang benar-benar hidup sesuai dengan impiannya.

Mengapa itu terjadi? Apa yang salah? Ada banyak faktor sih. Tapi salah satu kesalahan fatalnya ialah kurangnya pengenalan individu terhadap diri sendiri.

Mimpi itu gratis. Tapi tidak dengan strategi hingga proses untuk mewujudkannya. Itu mengapa pengenalan terhadap diri sendiri tidak bisa ditawar sebelum merenda mimpi.

Sah-sah saja sih bermimpi yang “besar-besar”. Keren sih bermimpi yang membuat orang lain bilang “wow”. Tapi jika akarnya rapuh, apa bisa mencapainya?

Thus, hati-hati dengan mimpi. Karena jika tidak berhati-hati, penyesalan mungkin akan terjadi di kemudian hari.

Lalu apa solusinya?

Sebelum bermimpi, tanyakan terlebih dahulu hal-hal substansial seperti ini. Siapa saya? Apa yang saya inginkan? Apa yang saya perjuangkan? Apa yang saya cari? Apa nilai-nilai yang saya yakini? Apa tujuan hidup saya?

Setelah merancang mimpi: just do it. Fokuslah mengejar mimpimu habis-habisan, sekuat tenaga dan pikiran. Karena jika tidak, kamu hanya akan menjadi “sekrup mesin” untuk mewujudkan mimpi orang lain.

Jadi, siapkah kamu (mewujudkan) mimpi?

 

Agung Setiyo Wibowo

Mega Kuningan, 13 Maret 2017

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit