Lakonono

Akhir-akhir ini saya banyak berdiam diri. Bukan berarti pasif. Bukan berarti menunggu. Tapi karena murni terpanggil untuk kontemplasi.

Saya melihat lagi ke belakang. Apa saja yang saya lakukan selama tiga belas bulan terakhir – lebih tepatnya lebih dari seperempat baya.

Dimulai dari ‘drama’ kejar-mengejar target hidup. Kemudian terjerembab dalam ‘kubangan’ Gap Year. Hingga terdampar dalam suatu pulau bernama transisi.

Saya pun mendapati salah satu kesalahan terfatal tahun lalu: overthinking. Sikap tersebut sebenarnya berniat baik. Membuat keputusan terbaik berdasarkan beragam pilihan yang terlihat sama-sama menarik. Namun pada akhirnya berujung pada kebuntuan karena terlalu banyak pertimbangan. (Maklumlah sebagai peneliti kan selalu ada trial & error sebelum menemukan ‘racikan’ bernama temuan hehe).

Jadi, pelajaran terbesar selama 2016 ialah satu kata: lakonono. Persis seperti wejangan legenda basket dunia Michael Jordan, “just do it”.

Lakukan saja. Lakukan saja. Lakukan saja.

Karena kita tidak perlu menunggu sempurna untuk berkarya. Kesalahan bisa diperbaiki sambil berjalan. Tantangan bisa ditangani sembari evaluasi. Masalah bisa teratasi beriringan. Tapi waktu takkan pernah bisa diputar ulang.

Thus, lakonono. Jangan terlalu banyak pertimbangan. Jangan terlalu dipusingkan dengan pikiran yang Anda buat sendiri. Karena esensi hidup ialah bergerak. Dan bergerak setali dengan melakukan.

 

Agung Setiyo Wibowo

Bintan, 4 Februari 2017

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit