Bukan Kebetulan

Tabik.

Belum lama ini saya bertemu dengan salah satu CEO di bilangan Setiabudi, Jakarta Selatan. Orang itu sebelumnya mengirimkan surat elektronik kepada saya untuk menawarkan kerjasama. Karena terlihat menarik, saya pun tidak butuh waktu lama langsung mengiyakan. Jadi, pertemuan hari itu tidak lain ialah buah dari percakapan melalui email.

Well, saya tidak perlu membahas apa isi kerjasamanya. Karena toh nggak penting untuk dibeberkan ke muka publik hehe. Namun saya hanya mengulas dari satu perspektif saja. Apa itu?

Bukan kebetulan.

Setelah menyimak dengan seksama, ternyata CEO yang menawarkan kerjasama dengan saya itu berjejaring cukup kuat dengan donor saya: Theodore Permadi Rachmat. Ia pun cukup mafhum dengan Mr. Corporate Culture yang menjadi Guru saya di tempat kerja sebelumnya.

Yang lebih mengejutkan lagi, apa yang ditawarkan sesuai dengan nilai-nilai yang saya yakini. Lebih dari itu, apa yang ditawarkan sejalan dengan apa yang saya cari selama ini. Setidaknya dari pesan moral.

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

Percaya atau tidak. Hukum tarik-menarik (ketertarikan) benar-benar ada. Jadi, apa yang kita pikirkan lama kelamaan menjadi kenyataan. Setidaknya dalam kasus kerjasama ini.

Jika ditarik mundur, akan ada lebih banyak lagi momen-momen yang bukan kebetulan. Saya yakin semua telah digariskan-Nya. Hanya saja cara kita menyikapilah yang membuatnya tidak begitu terasa.

Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan di dunia ini. Kita tidak bisa memilih kapan dilahirkan. Sebaliknya, kita tidak bisa menentukan kapan kematian datang. Kita tidak bisa memilih dilahirkan dengan etnis dan agama apa. Kita juga tidak bisa menentukan dilahirkan di kota dan negara mana.

Jadi, tidak ada yang perlu dirisaukan di dunia ini. Semua masalah yang kita hadapi unik. Tidak ada orang yang benar-benar memiliki jalan hidup serupa dengan kita. Karena setiap insan diciptakan Tuhan dengan nilai istimewa. Karena setiap yang bernyawa memiliki peran masing-masing.

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Mungkin bagi Anda ungkapan ini terdengar sangat klise. Tapi begitulah cara Tuhan mengingatkan hamba-Nya. Bukan kebetulan?

 

Agung Setiyo Wibowo

Jakarta, 20 Februari 2017

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit