Trade Off

“Tuhan Maha Adil”. Ungkapan ini begitu klise. Karena dimanapun semua orang juga sudah tahu. Kalau kata teman-teman nongkrong saya di Jakarta, “biasa aja kaleeee . . .”.

Lantas, bila sudah menjadi rahasia umum mengapa saya tulis di sini? Well, akhir tahun ini saya memang menarik benang merah dari apa yang saya alami di sepanjang 2016.

Memang, masih ada lesson-learned lain yang tak kalah penting. Namun, kalau dipikir-pikir lagi saya rasa “Trade Off” yang paling mewakili. Lah, apa dasarnya?

Sederhana saja sih. Dalam hidup kita tidak mungkin akan mendapatkan semua hal dalam satu waktu. Karena kesempurnaan katanya hanya milik Gusti Allah.

Taruh saja kehidupan para artis. Kurang apa sih mereka? Tenar ya. Berkecukupan? So pasti. Sehat wal’afiat?  Belum tentu. Harmonis rumah tangganya? Perlu dipertanyakan deh. Bandingkan dengan pejabat kelas kakap yang tengah korup. Berkuasa? Yes. Bergelimang harta? Ya dong karena “merampok uang rakyat”. Apakah hidupnya bahagia? Mungkin tidak karena sewaktu-waktu amal perbuatannya terbongkar.

Walaupun tak apple-to-apple, saya bisa juga membandingkan kehidupan orang Jabodetabek dengan orang Bintan – tempat saya menghabiskan masa Sabbatical belakangan. Kelompok pertama lebih unggul secara finansial, stres berlama-lama terjebak macet, pergi ke pusat perbelanjaan, membeli barang-barang bermerek, dan pelesiran ke luar negeri untuk tangkal stres. Kelompok kedua mungkin pendapatannya tak seberapa, tak (atau belum) pernah merasakan macet, masih bisa hidup seimbang (olahraga, kumpul dengan keluarga dan ibadah) terjaga. Kedua kelompok memang tidak absolut seperti itu karakteristiknya. Tapi mungkin itu mewakili gambaran umum.

Begitulah trade off. Dengan caranya, Tuhan memberikan keadilan bagi setiap orang. Ada yang diunggulkan finansialnya, ada yang dilebihkan keluangan waktunya, ada yang dijamin kesehatannya, ada yang oke spiritualnya, ada yang lebih baik modal sosialnya, ada pula yang mendapatkan semuanya dalam satu waktu – kendati hampir mustahil.

So, hidup memang trade off. Karena bermuara kepada pilihan. Mau dibawa kemana hidup kita? Ya, bergantung pilihan masing-masing. Mau dipakai untuk apa hidup ini? Ya, kembali ke pilihan pribadi. Mau dimaknai seperti apa hidup ini? Ya, setiap hati dan kepala memiliki jawaban yang saling sahut-menyahut.

Bagaimanapun hidup kita saat ini, jalani saja! Karena bahagia atau tidaknya hidup ini ialah pilihan. Kita tidak bisa mengendalikan atau menolak apa yang akan terjadi kepada kita. Tapi kita bisa mengendalikan cara kita menyikapinya. So, enjoy your trade off!

 

Agung Setiyo Wibowo

Bintan, 29 Desember 2016

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit