Wayang Kehidupan

Akhir tahun 2015 saya memberanikan diri untuk mengambil keputusan ‘tidak populer’. Buah dari itu, sejak 1 Januari 2016 saya menjalani masa Sabbatical. Suatu fase yang mungkin belum begitu populer di Indonesia dibandingkan dengan di negara-negara semakmur Amerika Serikat, Kanada, Inggris, ataupun Australia.

Selain menyempatkan diri untuk menjelajahi tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi, bertemu dengan orang-orang baru, bersilaturrahmi dengan teman lama, giat berolahraga, dan rutin melakukan meditasi; saya pun sangat intens berhari-hari “hibernasi” di perpustakaan sekelas Center for Strategic and International Studies  (CSIS). Pilihan untuk berlama-lama di CSIS bukanlah tanpa alasan. Tempat ini hanya memakan waktu 3 menit berjalan kaki dari rumah. Koleksi bacaannya super lengkap. Akses transportasi ke dalam atau luar kota mudah. Menjangkau makanan dan minuman apalagi. Mushala pun tersedia. Dan terpenting, sangat kondusif untuk menenangkan diri.

Berhari-hari ‘hibernasi’ di CSIS saya manfaatkan sebaik-baiknya. Tidak hanya menambah ‘gizi’ untuk persiapan PhD saja, akan tetapi juga melahap puluhan (atau ratusan) buku biografi. Jenis bacaan yang paling saya butuhkan di masa jeda.

Tokoh yang saya ‘korek’ perjalanan hidupnya, tidak hanya tokoh-tokoh nasional. Tapi juga tokoh internasional. Baik negarawan, taipan, cendekiawan, professional, pembela hukum, pejuang, aktivis sosial, analis politik, tokoh militer, dan sebagainya.

Setiap sosok tentu saja memberikan pelajaran masing-masing bagi saya. Entah dari sisi kepribadian, profesionalisme, hingga spiritual.

Dari buku-buku biografi tersebut saya belajar untuk Connecting the dots. Rupanya, pencapaian yang dilalui oleh setiap tokoh di puncak karirnya tidak dapat dilepaskan dari masa lalunya. Hal itu mencakup gaya didikan orang tua, pengaruh budaya di masa kecil, pendidikan, tempaan masalah, komunitas yang dimasuki, orang-orang yang pernah ditemui, nilai-nilai yang dipegang hingga tujuan hidup.

Jika direnungkan lebih dalam, perjalanan setiap anak manusia tidak lebih dari hubungan dalang-wayang. Dalam konteks ini, dalang dianalogikan sebagai Sang Pemberi Kehidupan. Sedangkan wayang diibaratkan manusia itu sendiri. Dalang memiliki power untuk menentukan alur cerita wayang selama “permainan”. Sedangkan wayang mau tidak mau ‘mengikuti’ apa yang ditakdirkan dalang.

Bagi orang Jawa, wayang merupakan lambang yang disebut dengan pasemon. Pasemon dalam konteks ini terdapat dalam alur cerita, penokohan, hingga eksistensinya.  Wayang pun bermakna wewayangan yang berarti wewayanganing ngaurip (bayangan kehidupan). Oleh karenanya, wayang dapat bergerak, berbicara, atau berbuat karena ada dalang yang melakukannya. Singkat kata, wayang hanya sak dermo nglakoni apa yang dilakukan dalang.

Dalang kira-kira dapat diartikan sebagai Ngudal piwulang. Ngudal berarti menguraikan, sedangkan piwulang berarti nasehat atau pelajaran. Sehingga dalang bermakna seseorang yang menguraikan nasehat melalui media wayang.

Pagelaran wayang biasanya tidak terjadi begitu saja. Selalu ada yang “punya gawe”. Si dalang diberi wewenang untuk mementaskan wayang, dan penyelenggara tidak dapat mengintervensi permainan. Hal ini mungkin bermakna bahwa kebebasan berpikir manusia terbatas, sehingga tak akan dapat meramalkan apa yang terjadi.

Namun dalam permainan ini, wayang bukan sama sekali powerless. Ia diberi ‘kekuatan lebih’ untuk mewarnai jalannya cerita. Dengan kata lain, dalang hanya menentukan script  secara umum. Wayang berkesempatan untuk  memutuskan alur permainan serinci-rincinya.

Manusia memang dapat diibaratkan laksana wayang. Tetapi, manusia bukanlah wayang. Manusia diberi jasad, hati, roh, dan rasa untuk bersikap maupun bertindak sesuka hati. Wayang 100% tunduk dengan perintah si dalang. Dalam kehidupan, Tuhan sebatas memberikan petunjuk untuk membedakan mana yang baik dan buruk. Mana perbuatan  yang menjadi jalan surga atau neraka.

Dari sebuah pagelaran wayang kita dapat menarik sebuah benang merah. Bahwasannya wayang, dalang, dan “yang punya hajat” merupakan simbol dari manusia, roh, dan Tuhan. Wayang tidak lebih dari manusia yang hanya hidup apabila ada dalang sebagai roh, dan kehidupan ada lantaran diciptakan oleh yang punya hajat yaitu Tuhan.

Kita adalah wayang kehidupan yang terus bergerak mengikuti lakon dari dalang. Kita adalah wayang kehidupan yang kadang-kadang (atau sering) powerless untuk memaksa dalang mengubah alur cerita. Ya, begitulah kehidupan di alam dunia nan fana ini.

“A human being always acts and feels and performs in accordance with what he imagines to be true about himself and his environment…For imagination sets the goal ‘picture’ which our automatic mechanism works on. We act, or fail to act, not because of ‘will,’ as is so commonly believed, but because of imagination.”
― Maxwell MaltzNew Psycho-Cybernetics

 

Agung Setiyo Wibowo

Gambir – Jakarta Pusat, 26 Februari 2016

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

2 thoughts on “Wayang Kehidupan

  1. Saya setuju bahwa kehidupan manusia bagai wayang, sudah diatur oleh sang pencipta. Apalagi di Alquran juga sudah dijelaskan bahwa segala yang terjadi di kehidupan manusia dari yang terbesar sampai terkecil semua sudah tercatat di lauhul mahfudz. Jadi mohon maaf saya kurang setuju klo anda bilang “Manusia memang dapat diibaratkan laksana wayang. Tetapi, manusia bukanlah wayang. Manusia diberi jasad, hati, roh, dan rasa untuk bersikap maupun bertindak sesuka hati. Wayang 100% tunduk dengan perintah si dalang”
    itu berarti hidup manusia diatur oleh manusia sendiri, sedangkan Tuhan tidak punya kuasa, padahal anda sudah tau bahwa Tuhan lah yang mengatur kehidupan manusia. Manusia hanyalah menjalani takdir yang sudah Tuhan berikan semenjak si manusia itu lahir ke bumi… 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *