Jangan Jadi Meteor

Tabik.

 Look at the sky. We are not alone. The whole universe is friendly to us and conspires only to give the best to those who dream and work. ~ A. P. J. Abdul Kalam

Pada 10 Februari 2016 lalu saya berkesempatan untuk membuka relasi dengan dua tokoh kenamaan. Pertama, dengan mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) yang saat ini merupakan salah satu pengamat dan penulis penerbangan terpopuler. Kedua, dengan salah satu rektor perguruan tinggi swasta di Jakarta Selatan yang menamatkan doktoralnya di Amerika Utara.

Sejatinya kedua tokoh tersebut memiliki banyak cerita yang dapat diulas di blog ini. Karena pertimbangan urgensi, kali ini saya hanya mengulas sedikit dari apa yang saya pelajari dari tokoh pertama. Maklum, saya kira rektor manapun relatif lebih mudah untuk dihubungi dan diajak bekerjasama. Namun, sepertinya – setidaknya menurut kacamata saya – tidak semua tokoh militer demikian.

Beralamatkan di salah satu gedung di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan pagi itu saya beruntung untuk menemui tokoh militer tersebut. Sebut saja namanya Bapak Elang. Setelah beberapa saat saya ‘diajak’ mengenang masa kecilnya, tibalah saya diceritakan bagaimana ‘drama’ perjalanan beliau berkarir di dunia militer hingga mencapai puncaknya.

Elang tidak hanya menyadarkan pentingnya sebuah negara memperkuat manajemen pertahanan udaranya, akan tetapi juga berhasil memancing keingintahuan saya dalam bidang penerbangan. Nampaknya jiwa penerbangan beliau sudah mendarah daging. Hal itu tampak dari bagaimana beliau bertutur, karya apa saja yang telah ditelurkan, pencapaian apa yang telah diraih, sejauh mana kepuasan batin yang telah direguk, hingga seberapa besar penghargaan publik dengan karyanya.

Sepertinya tidak cukup menuliskan sebanyak sepuluh halaman untuk mengulas hikmah yang saya dapatkan dari Elang. Karena beliau membeberkan filosofi, konsep, hingga praktek ranah militer – khususnya penerbangan. Uniknya, segalanya dapat disambungkan dalam kehidupan sehar-hari untuk penduduk sipil.

Salah satu poin yang saya ingat dari Elang adalah agar kita jangan menjadi sebuah meteor. Maksudnya? Mungkin ingatan Anda langsung melayang ke pelajaran Astronomi di bangku SMA. Bisa jadi Anda menghubungkannya dengan tata surya, galaksi, planet, atau apapun itu namanya. Karena, toh memang terkait.

Secara sederhana, meteor dapat dilukiskan sebagai benda langit yang masuk ke wilayah bumi yang mengakibatkan adanya gesekan permukaan meteor dengan udara dalam kecepatan tinggi. Gesekan tersebut menimbulkan pijaran api dan cahaya yang dari kejauhan nampak laksana ‘bintang jatuh’. Menurut para ahli, tidak semua meteor sampai ke bumi lantaran sudah habis terbakar pada saat bergesekan dengan atmosfer. Itu kenapa meteor yang berhasil menginjak bumi disebut meteorid.

Lantas, apa hubungannya dengan diri kita? Bapak Elang menganjurkan agar diri ini tidak menjadi seperti meteor. Apa pasal?

Karena meteor tidak memiliki orbit. Pun tidak memiliki periode ‘kunjungan’ tetap ke bumi. Benda ini tidak memiliki aturan.

Sebaliknya, beliau menyarankan agar setiap individu ‘meneladani’ planet atau bintang. Planet adalah benda langit yang secara beraturan mengelilingi bintang sebagai pusat tata surya. Sedangkan bintang adalah benda luar angkasa berukuran besar yang mampu memancarkan cahaya sendiri.

Dalam konteks berkehidupan, baik planet maupun bintang memiliki orbit. Keduanya memiliki positioning. Keduanya memiliki diferensiasi yang kuat. Keduanya memiliki peran dan fungsi yang jelas. Sehingga kehadirannya dapat dirasakan oleh orang-orang sekelilingnya. Jangan jadi meteor!

 “When positioning a brand, aggressively avoid becoming a “me too” by assertively being a “who else?”
― Crystal Black Davis

 

Agung Setiyo Wibowo

Gambir – Jakarta Pusat, 11 Februari 2016

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

2 thoughts on “Jangan Jadi Meteor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *